PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK DUNIA SIBER

PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK DUNIA SIBER

Oleh: Rohendi

Anak lugu yang hilang itu akhirnya ditemukan.  Seperti diberitakan media cetak dan elektronik beberapa waktu lalu tentang nasib yang menimpa Marieta Nova Triani (14) yang menghilang dari rumah tantenya.  Ternyata ia dibawa pergi Febriari, teman yang baru dikenalnya lewat jejaring sosial facebook.  Selanjutnya perdagangan anak untuk dijadikan pekerja seks lewat facebook juga akhirnya terungkap oleh Polwiltabes Surabaya.  Batin orang tua yang masih waras akan merasa lebih miris lagi ketika membaca berita dimana sebanyak 5 persen anak-anak di sejumlah SMP dan SMA di Kabupaten Karawang menggunakan jejaring facebook untuk menjadi pekerja seks komersial (PR, 15-2-2010)

Tampaknya perkembangan teknologi informatika (siber) yang nyaris tanpa batas ini merupakan kemajuan peradaban manusia akan tetapi ternyata tidak semuanya bermanfaat.  Di dalamnya terdapat sampah-sampah yang mengancam  keselamatan masa depan anak-anak kita.  Keselamatan mereka saat ini menjadi sesuatu yang teramat mahal, karena kekerasan dengan cara konvensional pun sampai kini masih menjadi ancaman.  Situasi ini diperburuk dengan kekerasan dari dunia maya.  Lalu adakah upaya kita untuk meminimalisir akibat buruk siber ini?

Sungguh tak bisa dipungkiri bahwa saat ini tengah terjadi lompatan teknologi konvensional ke teknologi digital.  Teknologi ini telah memanjakan penggunanya bahkan terkadang seperti berada di alam mimpi karena kecanggihannya.   Selain itu magnetnya begitu tinggi, tidak berlebihan bila siber  ini menjadi “agama” baru.  Karena dalam hitungan tahun saja pengguna siber berlipat-lipat.  Seperti yang diutarakan oleh Asosiasi Jasa Internet, bahwa pengguna internet telah mencapai angka 25 juta orang dengan laju pertumbuhan sampai 25 persen per tahun.  Lebih rinci lagi riset Yahoo Indonesia mencatat 64 persen pengguna internet berusia 15-19 tahun.  Bahkan pengguna facebook yang disinyalir sering disalahgunakan itu meningkat 700 persen pada tahun 2009 dibanding pada tahun sebelumnya.

Sekelumit ilustrasi fakta-fakta dan angka-angka ini, menjelaskan bahwa anak-anak kita sangat rentan menjadi “santapan” para predator online, yaitu sebutan bagi orang-orang yang akan memanfaatkan keluguan anak-anak dengan tujuan pencabulan dan bisnis seks.  Walaupun kejahatan dilakukan di dunia maya akan tetapi korbannya nyata dan memberikan trauma mendalam.  Belum lagi dampak psikologis tersembunyi, seperti pengikisan karakter yang berujung pada degradasi moral.  Jika hal ini dibiarkan maka keroposnya fondasi batin anak-anak akan seperti gunung es yang pada suatu waktu siap meledak yang berarti kehancuran sebuah generasi.

Mau tidak mau, kaki telah berada di area digital.  Langkah strategis harus segera dipersiapkan supaya korban “panasnya” siber tidak bertambah-tambah.   Langkah kontraproduktif menghalang-halangi atau menakuti-nakuti anak-anak.  Mereka tidak akan terpengaruh dengan mengatakan bahwa membuka situs porno atau bercumbu di dunia maya itu berdosa.  Justru yang dibutuhkan adalah bimbingan baik melalui pesan moral maupun menumbuhkan kultur disiplin serta mempersiapkan perangkat sosial komunitas yang bertugas mengontrol aktifitas siber mereka.

Dampak buruk siber adalah menggerogoti kemampuan karakter anak-remaja.  Untuk itu penanggulangannya tidak lepas dari bagaimana pendidikan karakter dibangun.  Doni Kusuma menggambarkan tiga basis pembangunan karakter.  Pertama, desain pendidikan berbasis kelas, kedua desain pendidikan berbasis kultur sekolah, dan ketiga desain pendidikan berbasis komunitas. (Kompas, 11/2/2010)

Mengadopsi pendapat itu dikaitkan dengan upaya membentengi anak-remaja dari dampak buruk siber dapat dilalui melalui tahapan-tahapan sebagai berikut.  Pertama, membangun pendidikan siber dari dalam kelas.  Sekolah dengan keunggulan kultur edukasi dapat mentranformasikan pesan-pesan moral secara umum melalui pendekatan lintas pelajaran, seperti pelajaran agama dan akhlak mulia maupun pelajaran lain yang tekait.  Lebih khusus lagi dalam pelajaran Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) selain tujuan instruksional, maka ranah noninstruksional pun harus menjadi bagian penting, seperti kiat-kiat penggunaan siber yang aman, penjelasan ranah manfaat dan mudharatnya, berkomunikasi di jejaring sosial tidak mencantumkan identitas personal yang jelas, jangan sekali-sekali bersedia bertemu dengan teman baru via faceboook, berikan penjelasan tentang predator online yang berbahaya, dan berikan bimbingan positif di internet.

Kedua, pesan moral yang telah disampaikan melalui ranah instruksional maupun noninstruksional tidak akan terbentuk dan meresap ke sanubari jika tidak diperkuat dengan kultur sekolah.   Untuk itu kultur sekolah mengenai pemanfaatan siber harus dibangun.  Hal ini yang sering terabaikan dalam pengelolaan pendidikan kita.  Dimana banyak pranata digulirkan  akan tetapi tidak dipersiapkan perangkat pembangunan kulturnya.  Maka jangan heran bila saat ini merebak epidemi plagiarsime dan korupsi.  Hal ini sebagai akibat lemahnya kultur sekolah dalam memberantas kebiasaan mencontek, menjiplak dan berbohong.  Dengan perangkat kultur sekolah ini, benar-salah tidak hanya retorika belaka akan tetapi langsung dipraktekkan.

Kultur ini akan membimbing sekaligus mengontrol penggunaan siber di sekolah.  Karena “Kejahatan bukan karena ada niat pelaku akan tetapi karena adanya kesempatan”  kata bang Napi. Dengan kultur ini kesempatan berperilaku buruk pemanfaatan internet dihilangkan.  Maka sekolah wajib membuat aturan penggunaan internet.  Misalnya semua siswa selama pelajaran berlangsung tidak diperkenankan mengakses jejaring sosial (online), dan penggunaan internet boleh dilakukan hanya jika  berkaitan dengan pelajaran.

Ketiga, desain pendidikan berbasis komunitas.  Yang dimaksud dengan pendidikan berbasis komunitas di sini adalah peran serta keluarga dan masyarakat dalam pendidikan siber anak-anak. Pola yang sehat tentang penggunaan internet keluarga  dan  warnet-warnet ikut menentukan kesehatan karakter anak.

Walaupun kebanyakan orang tua tidak lebih baik (digital immigrant) dalam mengenal siber  dari pada anak-anak (digital native) namun peran orang tua sangat diperlukan.  Dalam hal ini, misalnya memasang pengaman supaya anak tidak mengakses situs berbahaya,  tempatkan komputer atau laptop di ruang terbuka, tidak memberikan ponsel yang ada fasilitas internetnya, mengontrol anak di jejaring sosialnya, dan dampingi serta batasi penggunaan internet.  Di samping itu para pemilik warnet tidak hanya sekedar mengejar laba belaka, aturan penggunaan internet terutama bagi pelajar harus diperketat.

Telah banyak teori pendidikan yang dikembangkan dan diaplikasikan, namun kegagalan pendidikan selalu menyertainya.  Siber akan memunculkan persoalan baru bagi dunia pendidikan.  Untuk itu sudah saatnya pendidikan karakter aplikatif ditumbuhkan.  Hindari pendidikan karakter yang hanya bersifat teoritis karena hanya menanggung beban namun tidak bermanfaat sama sekali.

ROHENDI

Guru SMA Alfa Centauri Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s