Pendidikan butuh Revolusi

Kita beranggapan bahwa makin banyak manusia berpendidikan tinggi maka semakin sejahteralah bangsa ini.  Ternyata kebanyakan akibat ulah orang berpendidikan tinggilah, rakyat menderita.  Lihat saja kasus Bank Century, mafia hukum, atau korupsi hulu sampai hilir, yang telah menyengsarakan rakyat justru dipraktikkan  oleh manusia perlente dan terpelajar.  Hebatnya lagi pelaku amoral ini bukan dilakukan oleh sarjana yang nyaris drof out (DO) akan tetapi sarjana luar biasa dengan predikat cum laud saat mempertahankan desertasinya.   Lalu yang menjadi penasaran, mengapa orang cerdas bisa-bisanya melakukan pekerjaan terkutuk? bak orang bodoh.  Nampaknya dari sini saja dapat diterawang bahwa pendidikan tinggi bukan segala-galanya.

Tak dipungkiri mereka itu cerdas dan piawai.  Bahkan kemampuannya dapat dikatagorikan sebagai pakar dalam bidang tugasnya.  Karena kepiawaiannya itu mereka tidak perlu berkeringat-keringat untuk  mencari pembenaran apa yang dilakukannya sekalipun itu menjegal norma-norma yang sedang dibangun orang-orang shaleh.  Pembenarannya akan dikemas melalui ungkapan puitis yang mempesona dan meyakinkan.  Jika tidak cermat bisa-bisa kita berada di bawah “hipnotis”-nya.

Wajarlah seperti itu karena selain dari sananya cerdas juga mereka beruntung mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang tidak sembarang orang mendapatkannya. Namun sayang, pendidikan yang telah “dibeli” dengan mahal itu hanya mencerdaskan pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) saja tidak disertai dengan kecerdasan sikap (afektif).  Padahal bila sikapnya ikut dicerdaskan maka emosinya akan terjaga dan kepekaan sosialnya akan terasah. Sekaligus nuraninya akan  menjadi neraca yang dapat menimbang-nimbang kebaikan dan keburukan, kemudaratan dan kebermanfaatan  bagi orang banyak maupun dirinya.

Diakui atau tidak, ternyata baru sampai sini sapuan pendidikan kita.  Coba telusuri mulai dari taman kanak-kanak (TK) yang selayaknya mengenalkan dunia sesuai usianya sampai dengan perguruan tinggi (PT) yang sepatutnya kepekaan nurani mencapai puncak tertinggi, malah serempak semuanya berkutat hanya pada transfer pengetahuan belaka.  Bahkan itu pun di hampir seluruh jenjang pendidikan dalam prosesnya kerap dibumbui dengan praktek ketidakjujuran, seperti menjiplak, menyontek, dan plagiat.  Ironisnya praktek seperti ini sudah dianggap biasa.

Karakter

Tak perlu mengerutkan kening terlalu dalam untuk mencari fakta cacatnya karakter.   Lihat saja tawuran, anarkisme, seks bebas, dan kejahatan di setiap ruang dan waktu sering ditemukan. Tidak saja pelajar dan orang tua sebagai pelakunya, elit politik yang memiliki sebutan dewan terhormat pun tak luput berperilaku menyimpang.  Sedih dan khawatir melihat perkembangan akhlak sekaligus masa depan anak cucu kita.

Kekhawatiran memang ada, namun baru sebatas ucapan. Misalnya, peringatan hari pendidikan nasional tahun ini bertemakan “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa” .  Namun sekali lagi kita paling cerdas membuat jargon.  Pembangunan karakter baru sebatas tema dan judul yang dikumandangkan dalam pidato, saresehan, seminar dan semacamnya.  Akan tetapi tidak berpangkal proses dari dalam kelas.

Sampai kini sekolah-sekolah sebagai pelaksana kebijakan pemerintah tidak dapat berbuat banyak dalam membangunan karakter.  Pemerintah selalu fokus dan sibuk dengan proyek glamour nan prestisius dengan alasan mengejar ketertinggalan pendidikan dari negara-negara tetangga. Hal ini terlihat dari jor-jorannya menyulap sekolah-sekolah reguler menjadi rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI) dan matian-matian mempertahankan keberlangsungan Ujian Nasional (UN).

Bukan tidak setuju dengan keberadaan RSBI dan SBI, namun sekolah yang dirancang untuk menyambut globalisasi ini jangan sampai hanya mengentalkan kastanisasi dan diskriminasi pendidikan.  Sementara pendidikan akhlak yang selama ini “terinjak” UN akan semakin buruk dengan keberadaan sekolah internasional ini.  Sebagaimana diketahui pelajaran yang di UN-kan telah menjadi segala-galanya.  Dari awal tahun pelajaran siswa siswi pada tingkat akhir dipacu untuk faham standar kompetensi lulusan (SKL) dan drilling soal-soal UN.  Tidak terjadi lagi suatu proses pembelajaran menyenangkan yang merangsang tumbuhnya kreativitas.  Begitupun aktualisasi kemampuan diri dalam wadah ekstrakurikuler dan organisasinya (OSIS) tinggal kenangan.

Pendidikan telah kehilangan substansi pencerahan yang mengakar pada budaya dan kultur bangsa.  Seperti akhlak mulia dan kepribadian yang dahulu dielu-elukan, saat ini tidak jelas arahnya baik dalam proses maupun penilaian hasil belajar.  Lihat saja bila penilaian terhadap pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) dituangkan secara kuantitatif dalam bentuk bilangan bulat yang mudah dikalkulasi serta menentukan dalam prosesa kenaikan kelas, sementara penilaian terhadap sikap(afektif) dituangkan secara kualitatif dengan predikat tinggi, sedang, dan rendah serta tidak berpengaruh terhadap kenaikan kelas. Inilah penyebab (walau bukan satu-satunya), akhlak mulia dan kepribadian tak memiliki kekuatan dan hanya dipandang sebelah mata oleh siswa-siswi.

Lebih jelas lagi bila kita melihat syarat-syarat kenaikan kelas.  Siswa-siswi dinyatakan tidak naik kelas, apabila yang bersangkutan tidak mencapai ketuntasan belajar minimal lebih dari tiga mata pelajaran.  Sementara yang memiliki ketuntasan belajar itu hanya ranah pengetahuan dan keterampilan saja.  Sementara ranah sikap tidak memiliki acuan dan batasan yang tegas. Secara implisit kenaikan kelas hanya ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan saja tanpa menghiraukan makna akhlak, sikap, dan perilakunya.

Jika hal ini tetap dipertahankan artinya pendidikan akhlak, sikap dan kepribadian tidak memiliki kedudukan kuat dalam lembar hasil belajar, maka siswa-siswi pun akan memandang dengan sebelah mata.  Untuk itu dibutuhkan pembaharuan dalam pendidikan akhlak karena jika tidak,  maka pendidikan karakter hanya menjadi tema pidato hari-hari bersejarah.  Masih banyak peluang untuk berubah, asal semuanya mau berubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s