PESANTREN MORAL DAN REVITALISASI MADRASAH


  BangsaIndonesia, saat ini berada pada suatu peradaban permisif. Suatu peradaban, di mana hal yang asing dan haram, baik dilihat dari sudut agama maupun sosio-kultural bangsa, menjadi sesuatu yang wajar dan halal untuk dilakukan. Sopan santun, kebohongan, kekerasan, seks bebas, korupsi, dan hal lain yang searti dengan itu, merupakan sesuatu yang akrab dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

    Melihat fenomena-fenomena ini, membuat khawatir sebagian masyarakat atau orang tua yang peduli terhadap pendidikan anggota keluarganya.  Perasaan khawatir ini sesuatu yang wajar, namun tindakan nyata lebih penting kita lakukan, dari pada hanya sekedar memiliki perasaan khawatir. Fenomena mengeliminir moral dan mengagungkan hedonisme dan materialistik, bermuara dari ketakberdayaan sistem pendidikan kita untuk menangkal dan mengantisipasi perubahan zaman dan teknologi.

Pendidikan di rumah, hampa, mengingat orang tua, sibuk dengan urusan sendiri. Sementara sekolah, padat dengan pencapaian kurikulum yang menonjolkan sistem nilai kognitif belaka. Standar moral dan spiritual anak nyaris tanpa sentuhan, sehingga nilai dan norma yang tertanam pada diri anak hanya sesuatu yang absurd.

Kita memiliki jenjang pendidikan  yang menerapkan keseimbangan antara nilai materialistik dengan nilai moral-spiritual, yaitu madrasah. Namun madrasah yang dikenal saat ini, kurang memiliki “greget” dalam sistem pembelajarannya. Hal ini dapat dilihat dari output madrasah yang kurang mendapat tempat di masyarakat. Untuk itu perlu adanya revitalisasi madrasah, untuk bersama-sama membangun keterpurukan pendidikan bangsa.

***

  HEDONISME atau pandangan yang mengagungkan dan menomorsatukan kenikmatan materi sebagai tujuan hidup, telah melanda sebagian masyarakat kita. Pemujaan terhadap hal keduniaan dilakukan, walaupun berbenturan dengan standar moral. Kejahatan kerah putih,  penjarahan, kekerasan seksual, perselingkuhan, pemujaan terhadap tubuh (fetisisme), merupakan fakta klise yang setiap saat kita temui. Ulah-ulah amoral yang sangat bertentangan dengan kaidah kultur budaya dan agama, mereka kembangkan untuk mencapai kepuasan individual, kelompok atau golongan terbatas yang mengarah pada sektarian. Tujuan hidup yang hakiki, dengan sengaja dilemahkan, karena mereka menganggap tujuan hakiki sebagai batu sandungan yang harus disingkirkan.

Saat ini kita berada pada peradaban yang cerdas dalam mengemas perilaku negatif atau amoral dalam sebuah bingkai yang menarik. Kemasan diproduksi dengan apik, lalu dijual dengan harga mahal. Tindakan menjarah harta negara yang masuk ke pundi pribadi dikemas seolah hasil karya dan keringatnya. Perjudian dikemas dengan dalih mencari dana untuk kegiatan sosial. Pornoaksi dan pornografi dikemas, alih-alih hiburan untuk rakyat. Padahal semua itu sesungguhnya hanya sajian kesenangan semu yang menggiring masyarakat ke lembah nista.

Strategi jitu harus diupayakan untuk melawan kepiawaian tindakan amoral meluluhlantakkan kebenaran. Strategi yang dapat dipilih dengan mempertebal keimanan.  Sementara keimanan yang di dalamnya terkandung muatan moral hanya dapat diserap melalui pendidikan agama. Walaupun faham sekularis berpandangan, bahwa agama dan moral memiliki koridor yang berbeda. Mereka berpendapat, bahwa nilai moral tidak diperoleh dari agama, serta orang beragama tidak ada jaminan moralnya luhur. Namun kita sebagai umat beragama, dengan pendalaman agama yang baik, selain akan meningkatkan standar moral juga akan meningkatkan nilai iman dan taqwa, sekaligus pula sebagai pemenuhan kewajiban yang telah dibebankan.

Melihat kenyataan, bahwa moral telah termarginalisasi, maka pesantren moral dibutuhkan untuk menata ulang pendidikan moral, yang sekaligus juga untuk mengikis dan menetralisir faham amoral yang kini telah menjadi budaya baru sebagian kaula muda. Dengan pesantren moral diharapkan tumbuh moral religi sebagai entitas dari peningkatan iman dan taqwa

***

  SISTEM Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Tahun 2003, pada pasal 17 tersirat, bahwa Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan jenjang pendidikan yang setara dengan Sekolah Dasar (SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pasal 18 mengungkapkan bahwa Madrasah Aliyah (MA) setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) serta Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)  setara dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Justifikasi kesetaraan ini bahkan telah terjadi pada undang-undang sebelumnya, yaitu UU No 2 Tahun 1989. Namun legal formal kesetaraan belum mampu mengangkat kualitas pendidikan sains madrasah untuk mensejajarakan diri dengan sekolah umum.

Memang letak permasalahan bukan hanya pada justifikasi, prasyarat lain yang lebih krusial dan esensial yang berhubungan langsung dengan mekanisme pembelajaran perlu diadakan reorientasi. Permasalahan yang ada sebetulnya adalah masalah klise, seperti  sarana dan prasarana, guru, dan kurikulum. Kenyataan, banyak murid madrasah belajar di bawah ancaman runtuhnya bangunan. Banyak madrasah tidak memiliki sarana dan prasarana yang memenuhi standar minimal. Seperti yang terungkap, sebanyak 117 gedung madrasah di wilayah Kab. Bandungrusak parah, bahkan ada gedung yang sudah roboh  (Metro, 16 Agustus 2004).

Masalah klise lain adalah pendidik. Pendidik yang selama ini dianggap sebagai ujung tombak dan sekaligus sebagai biang keladi buruknya hasil pendidikan, menjadi titik lemah madrasah. Minimnya tenaga pendidik, tidak memiliki kualifikasi edukasi, dan salah kamar (mismatch) dari pendidik , paling banyak ditemui di madrasah. Data Dep. Agama tahun 2002, yang disampaikan oleh Prof. Dr. M Amin Abdulah, dari 456.281 guru Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), 80 persennya adalah guru swasta. Selain itu hampir 60 persen guru madrasah negeri termasuk kategori tidak layak. Angka ini menjadi 80 persen pada madrasah swasta. (Republika, 30 Juli 2004)

Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan sekolah dan pegangan guru, terlalu memberatkan dan membelenggu anak didik.  Kurikulum  madrasah sebagai hasil adopsi dari kurikulum sekolah umum, terlalu padat dan berat, karena sarat dengan muatan kognitif. Selain itu juga, kurikulum tidak mengembangkan potensi anak secara maksimal. Angka nilai menjadi ukuran keberhasilan kurikulum dan pendidikan.  Dalam keadaan kurikulum sulit “dicerna” anak, pembebanan makin bertambah dengan muatan lokal madrasah yang juga membutuhkan kemampuan pemahaman yang baik.

Kenyataan-kenyataan yang menjadi faktor penghambat dalam meningkatkan kualitas madrasah harus segera ditata ulang. Harus ada usaha dan keinginan yang kuat untuk merevitalisasi madrasah, sehingga tidak ada kesan seolah madrasah menjadi sekolah kelas dua.

***

  DEWASA ini setiap individu, baik rakyat “kere” ataupun borjuis, telah menempatkan materi dan kekuasan menjadi tujuan hidup. Suatu fakta yang sulit ditepis, bahwa dengan kekayaan materi dan atau kekuasan, membuat orang menjadi terhormat dan merasa tujuan hidup tercapai. Kadang tidak terlalu mempermasalahkan dari mana materi dan kekuasaan itu diperoleh.   Hidup glamor ini telah menjadi impian kaum muda. Untuk memberikan perlawanan terhadap hal ini, maka dibutuhkan pendidikan yang memberikan keseimbangan dalam mengembangkan kecerdasan akal dan kecerdasan spiritual. Prof. Dr. Mastuhu, M. Ed., dalam bukunya Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional abad 21, mengatakan bahwa pendidikan nasional yang dibutuhkan dalam abad mendatang adalah sistem pendidikan yang tidak hanya mampu mengembangkan kecerdasan akal semata, tetapi juga mampu mengembangkan kecerdasan emosi, spiritual, dan agama sekaligus sebagai satu kesatuan utuh.

Model pendidikan yang sesuai dengan harapan itu adalah madrasah. Madrasah telah memiliki landasan dalam mengembangkan potensi manusia secara utuh. Dimana pendidikan yang mengembangkan kecerdasan akal dan kecerdasan ilmu agama yang di dalamnya sudah tercakup kecerdasan emosi dan moral sudah diterapkan, walaupun pada tatanan kecerdasan akal masih kurang “menggigit” karena berbagai keterbatasan.

Sejalan dengan perkembangan pendidikan yang bernuansa Islam yang semakin  kondusif, maka pendidikan madrasah dengan tatanan pendidikan  keagamaannya yang telah mapan berhasil diadopsi oleh sekolah-sekolah swasta Islam.  Sekolah-sekolah itu telah mensinergikan secara apik antara pendididikan sains dan pendidikan agama. Kecermatan pengelolaan telah  membuahkan output yang mampu bersaing, sehingga mendapat tempat di masyarakat.

Menata ulang sistem pendidikan madrasah akan lebih efisien dibandingkan dengan menggabungkan diri ke sekolah umum. Karena madrasah telah memiliki struktur yang memadai dan telah mengakar di masyarakat. Yang menjadi pertanyaan, apakah institusi yang terkait memiliki keinginan atau tidak ? Semoga madrasah menjadi sekolah unggulan pada masa yang akan datang.

Penulis, guru SMA Alfa Centauri Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s