Indonesia All Stars Tumbang

Walaupun kekuatan, kecepatan dan stamina tidak sehebat ketika era berjayanya namun karena filosofi bermain dan tekniknya masih tetap mengagumkan. Itulah tim AC Milain Glorie.   Tak heran bila Indonesia All Stars (IAS) Legend kalah telak 1-5 melawan AC Milan Glorie di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (4/9/2011) malam.

Menurunkan pemain dari empat generasi, Indonesia All Stars Legend tak berkutik menghadapi gempuran mantan bintang Rossoneri.   Padahal IAS di perkuat pemain yang masih aktif.  Namun karena Teknik dan filosofi bermain yang tidak dimiliki, sejak peluit kick off dibunyikan, Milan tampil menyerang yang merepotkan barisan belakang Indonesia.

Serginho menjadi bintang dengan tiga golnya.  sementara Nelson Dida yang biasa menjadi penjaga gawang pun begitu brilian ketika berada di kotak penalti. Dia berhasil menjaringkan satu gol ke gawang IAS yang dijaga Hendra Kartiko.

Memang bukan hanya IAS, namun timnas pun harus dapat meniru teknik dan filosofi bermain tim-tim Erofah.  Jalan paling baik PSSI harus mampu mengontrak pelatih berkelas dunia.  Jika hanya mengandalkan pelatih kelas-kelas bawah jangan harap Timnas berjaya di level internasional.
(wei)

Indinesia All Stars Tumbang

Walaupun kekuatan, kecepatan dan stamina tidak sehebat ketika era berjayanya namun karena filosofi bermain dan tekniknya masih tetap mengagumkan. Itulah tim AC Milain Glorie.   Tak heran bila Indonesia All Stars (IAS) Legend kalah telak 1-5 melawan AC Milan Glorie di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (4/9/2011) malam. Menurunkan pemain dari empat generasi, … Baca lebih lanjut

PESANTREN MORAL DAN REVITALISASI MADRASAH


  BangsaIndonesia, saat ini berada pada suatu peradaban permisif. Suatu peradaban, di mana hal yang asing dan haram, baik dilihat dari sudut agama maupun sosio-kultural bangsa, menjadi sesuatu yang wajar dan halal untuk dilakukan. Sopan santun, kebohongan, kekerasan, seks bebas, korupsi, dan hal lain yang searti dengan itu, merupakan sesuatu yang akrab dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

    Melihat fenomena-fenomena ini, membuat khawatir sebagian masyarakat atau orang tua yang peduli terhadap pendidikan anggota keluarganya.  Perasaan khawatir ini sesuatu yang wajar, namun tindakan nyata lebih penting kita lakukan, dari pada hanya sekedar memiliki perasaan khawatir. Fenomena mengeliminir moral dan mengagungkan hedonisme dan materialistik, bermuara dari ketakberdayaan sistem pendidikan kita untuk menangkal dan mengantisipasi perubahan zaman dan teknologi.

Pendidikan di rumah, hampa, mengingat orang tua, sibuk dengan urusan sendiri. Sementara sekolah, padat dengan pencapaian kurikulum yang menonjolkan sistem nilai kognitif belaka. Standar moral dan spiritual anak nyaris tanpa sentuhan, sehingga nilai dan norma yang tertanam pada diri anak hanya sesuatu yang absurd.

Kita memiliki jenjang pendidikan  yang menerapkan keseimbangan antara nilai materialistik dengan nilai moral-spiritual, yaitu madrasah. Namun madrasah yang dikenal saat ini, kurang memiliki “greget” dalam sistem pembelajarannya. Hal ini dapat dilihat dari output madrasah yang kurang mendapat tempat di masyarakat. Untuk itu perlu adanya revitalisasi madrasah, untuk bersama-sama membangun keterpurukan pendidikan bangsa.

***

  HEDONISME atau pandangan yang mengagungkan dan menomorsatukan kenikmatan materi sebagai tujuan hidup, telah melanda sebagian masyarakat kita. Pemujaan terhadap hal keduniaan dilakukan, walaupun berbenturan dengan standar moral. Kejahatan kerah putih,  penjarahan, kekerasan seksual, perselingkuhan, pemujaan terhadap tubuh (fetisisme), merupakan fakta klise yang setiap saat kita temui. Ulah-ulah amoral yang sangat bertentangan dengan kaidah kultur budaya dan agama, mereka kembangkan untuk mencapai kepuasan individual, kelompok atau golongan terbatas yang mengarah pada sektarian. Tujuan hidup yang hakiki, dengan sengaja dilemahkan, karena mereka menganggap tujuan hakiki sebagai batu sandungan yang harus disingkirkan.

Saat ini kita berada pada peradaban yang cerdas dalam mengemas perilaku negatif atau amoral dalam sebuah bingkai yang menarik. Kemasan diproduksi dengan apik, lalu dijual dengan harga mahal. Tindakan menjarah harta negara yang masuk ke pundi pribadi dikemas seolah hasil karya dan keringatnya. Perjudian dikemas dengan dalih mencari dana untuk kegiatan sosial. Pornoaksi dan pornografi dikemas, alih-alih hiburan untuk rakyat. Padahal semua itu sesungguhnya hanya sajian kesenangan semu yang menggiring masyarakat ke lembah nista.

Strategi jitu harus diupayakan untuk melawan kepiawaian tindakan amoral meluluhlantakkan kebenaran. Strategi yang dapat dipilih dengan mempertebal keimanan.  Sementara keimanan yang di dalamnya terkandung muatan moral hanya dapat diserap melalui pendidikan agama. Walaupun faham sekularis berpandangan, bahwa agama dan moral memiliki koridor yang berbeda. Mereka berpendapat, bahwa nilai moral tidak diperoleh dari agama, serta orang beragama tidak ada jaminan moralnya luhur. Namun kita sebagai umat beragama, dengan pendalaman agama yang baik, selain akan meningkatkan standar moral juga akan meningkatkan nilai iman dan taqwa, sekaligus pula sebagai pemenuhan kewajiban yang telah dibebankan.

Melihat kenyataan, bahwa moral telah termarginalisasi, maka pesantren moral dibutuhkan untuk menata ulang pendidikan moral, yang sekaligus juga untuk mengikis dan menetralisir faham amoral yang kini telah menjadi budaya baru sebagian kaula muda. Dengan pesantren moral diharapkan tumbuh moral religi sebagai entitas dari peningkatan iman dan taqwa

***

  SISTEM Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Tahun 2003, pada pasal 17 tersirat, bahwa Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan jenjang pendidikan yang setara dengan Sekolah Dasar (SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pasal 18 mengungkapkan bahwa Madrasah Aliyah (MA) setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) serta Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)  setara dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Justifikasi kesetaraan ini bahkan telah terjadi pada undang-undang sebelumnya, yaitu UU No 2 Tahun 1989. Namun legal formal kesetaraan belum mampu mengangkat kualitas pendidikan sains madrasah untuk mensejajarakan diri dengan sekolah umum.

Memang letak permasalahan bukan hanya pada justifikasi, prasyarat lain yang lebih krusial dan esensial yang berhubungan langsung dengan mekanisme pembelajaran perlu diadakan reorientasi. Permasalahan yang ada sebetulnya adalah masalah klise, seperti  sarana dan prasarana, guru, dan kurikulum. Kenyataan, banyak murid madrasah belajar di bawah ancaman runtuhnya bangunan. Banyak madrasah tidak memiliki sarana dan prasarana yang memenuhi standar minimal. Seperti yang terungkap, sebanyak 117 gedung madrasah di wilayah Kab. Bandungrusak parah, bahkan ada gedung yang sudah roboh  (Metro, 16 Agustus 2004).

Masalah klise lain adalah pendidik. Pendidik yang selama ini dianggap sebagai ujung tombak dan sekaligus sebagai biang keladi buruknya hasil pendidikan, menjadi titik lemah madrasah. Minimnya tenaga pendidik, tidak memiliki kualifikasi edukasi, dan salah kamar (mismatch) dari pendidik , paling banyak ditemui di madrasah. Data Dep. Agama tahun 2002, yang disampaikan oleh Prof. Dr. M Amin Abdulah, dari 456.281 guru Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), 80 persennya adalah guru swasta. Selain itu hampir 60 persen guru madrasah negeri termasuk kategori tidak layak. Angka ini menjadi 80 persen pada madrasah swasta. (Republika, 30 Juli 2004)

Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan sekolah dan pegangan guru, terlalu memberatkan dan membelenggu anak didik.  Kurikulum  madrasah sebagai hasil adopsi dari kurikulum sekolah umum, terlalu padat dan berat, karena sarat dengan muatan kognitif. Selain itu juga, kurikulum tidak mengembangkan potensi anak secara maksimal. Angka nilai menjadi ukuran keberhasilan kurikulum dan pendidikan.  Dalam keadaan kurikulum sulit “dicerna” anak, pembebanan makin bertambah dengan muatan lokal madrasah yang juga membutuhkan kemampuan pemahaman yang baik.

Kenyataan-kenyataan yang menjadi faktor penghambat dalam meningkatkan kualitas madrasah harus segera ditata ulang. Harus ada usaha dan keinginan yang kuat untuk merevitalisasi madrasah, sehingga tidak ada kesan seolah madrasah menjadi sekolah kelas dua.

***

  DEWASA ini setiap individu, baik rakyat “kere” ataupun borjuis, telah menempatkan materi dan kekuasan menjadi tujuan hidup. Suatu fakta yang sulit ditepis, bahwa dengan kekayaan materi dan atau kekuasan, membuat orang menjadi terhormat dan merasa tujuan hidup tercapai. Kadang tidak terlalu mempermasalahkan dari mana materi dan kekuasaan itu diperoleh.   Hidup glamor ini telah menjadi impian kaum muda. Untuk memberikan perlawanan terhadap hal ini, maka dibutuhkan pendidikan yang memberikan keseimbangan dalam mengembangkan kecerdasan akal dan kecerdasan spiritual. Prof. Dr. Mastuhu, M. Ed., dalam bukunya Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional abad 21, mengatakan bahwa pendidikan nasional yang dibutuhkan dalam abad mendatang adalah sistem pendidikan yang tidak hanya mampu mengembangkan kecerdasan akal semata, tetapi juga mampu mengembangkan kecerdasan emosi, spiritual, dan agama sekaligus sebagai satu kesatuan utuh.

Model pendidikan yang sesuai dengan harapan itu adalah madrasah. Madrasah telah memiliki landasan dalam mengembangkan potensi manusia secara utuh. Dimana pendidikan yang mengembangkan kecerdasan akal dan kecerdasan ilmu agama yang di dalamnya sudah tercakup kecerdasan emosi dan moral sudah diterapkan, walaupun pada tatanan kecerdasan akal masih kurang “menggigit” karena berbagai keterbatasan.

Sejalan dengan perkembangan pendidikan yang bernuansa Islam yang semakin  kondusif, maka pendidikan madrasah dengan tatanan pendidikan  keagamaannya yang telah mapan berhasil diadopsi oleh sekolah-sekolah swasta Islam.  Sekolah-sekolah itu telah mensinergikan secara apik antara pendididikan sains dan pendidikan agama. Kecermatan pengelolaan telah  membuahkan output yang mampu bersaing, sehingga mendapat tempat di masyarakat.

Menata ulang sistem pendidikan madrasah akan lebih efisien dibandingkan dengan menggabungkan diri ke sekolah umum. Karena madrasah telah memiliki struktur yang memadai dan telah mengakar di masyarakat. Yang menjadi pertanyaan, apakah institusi yang terkait memiliki keinginan atau tidak ? Semoga madrasah menjadi sekolah unggulan pada masa yang akan datang.

Penulis, guru SMA Alfa Centauri Bandung.

Di Jakarta Timnas Akan Menuai Kemenangan

Kekuatan militansi timnas tak mampu membendung lima(5) kekuatan Iran. Seperti disaksikan oleh jutaan pasang mata pendukung timnas, Bambang Pamungkas dkk, tak berkutik diterkam Tim Iran dengan 0-3.  Tim merah putih kalah segala-galanya, walaupun gol terjadi pada babak kedua, sebenarnya urusan gol tinggal menunggu waktu saja. Karena sepanjang pertandingan serangan Iran silih berganti, nyaris tak ada kesempatan membalas.

Lima kekuatan Iran semalam berupa; kualitas pemain, penonton, cuaca, kondisi lapangan, dan kualitas pelatih sulit ditandingi oleh satu kekuatan timnas yaitu semangat militansi saja. Kualitas pemain Iran menjadi kekuatan yang paling menonjol.  Mereka bermain afik, efektif, dipadukan dengan strategi dan mental prima.

Kekalahan besar ini harus jadi motivasi untuk dapat membalas ketika bermain di Jakarta.  Ada peluang  untuk mengalahkan tim Iran dengan membalikan kekuatan. Ketika pertandingan semalam Iran memiliki kekuatan lima (5) sementara Timna hanya satu (1) kekuatan.  Maka ketika main di Indonesia kita balik, lima(5) menjadi kekuatan Timnas, dan satu (1) kekuatan Iran.

lima kekuatan yang dapat dijadikan senjata menundukan Iran adalah; pertama, pemain kedua belas alias jumlah penonton. Untuk itu PSSI sebagai penyelenggara harus dapat mengakomodasi kekuatan ini. jika perlu gratiskan. Kedua, Cuaca yang sudah diadaptasi pemain. Ketiga, kondisi lapangan yang sudah familier dengan Firman Utina dkk. Keempat, militansi pemain sebagai upaya “balas dendam”.  Kelima, do’a jutaan rakyat Indonesia.

Sementara satu kekuatan Iran adalah kualitas pemain.  Tak ada alasan lagi bagi timnas untuk kalah yang kedua kalinya. Selamat berjuang kawan, semoga kalian kali ini menuai hasil memuaskan. Amin

Pendidikan butuh Revolusi

Kita beranggapan bahwa makin banyak manusia berpendidikan tinggi maka semakin sejahteralah bangsa ini.  Ternyata kebanyakan akibat ulah orang berpendidikan tinggilah, rakyat menderita.  Lihat saja kasus Bank Century, mafia hukum, atau korupsi hulu sampai hilir, yang telah menyengsarakan rakyat justru dipraktikkan  oleh manusia perlente dan terpelajar.  Hebatnya lagi pelaku amoral ini bukan dilakukan oleh sarjana yang nyaris drof out (DO) akan tetapi sarjana luar biasa dengan predikat cum laud saat mempertahankan desertasinya.   Lalu yang menjadi penasaran, mengapa orang cerdas bisa-bisanya melakukan pekerjaan terkutuk? bak orang bodoh.  Nampaknya dari sini saja dapat diterawang bahwa pendidikan tinggi bukan segala-galanya.

Tak dipungkiri mereka itu cerdas dan piawai.  Bahkan kemampuannya dapat dikatagorikan sebagai pakar dalam bidang tugasnya.  Karena kepiawaiannya itu mereka tidak perlu berkeringat-keringat untuk  mencari pembenaran apa yang dilakukannya sekalipun itu menjegal norma-norma yang sedang dibangun orang-orang shaleh.  Pembenarannya akan dikemas melalui ungkapan puitis yang mempesona dan meyakinkan.  Jika tidak cermat bisa-bisa kita berada di bawah “hipnotis”-nya.

Wajarlah seperti itu karena selain dari sananya cerdas juga mereka beruntung mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang tidak sembarang orang mendapatkannya. Namun sayang, pendidikan yang telah “dibeli” dengan mahal itu hanya mencerdaskan pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) saja tidak disertai dengan kecerdasan sikap (afektif).  Padahal bila sikapnya ikut dicerdaskan maka emosinya akan terjaga dan kepekaan sosialnya akan terasah. Sekaligus nuraninya akan  menjadi neraca yang dapat menimbang-nimbang kebaikan dan keburukan, kemudaratan dan kebermanfaatan  bagi orang banyak maupun dirinya.

Diakui atau tidak, ternyata baru sampai sini sapuan pendidikan kita.  Coba telusuri mulai dari taman kanak-kanak (TK) yang selayaknya mengenalkan dunia sesuai usianya sampai dengan perguruan tinggi (PT) yang sepatutnya kepekaan nurani mencapai puncak tertinggi, malah serempak semuanya berkutat hanya pada transfer pengetahuan belaka.  Bahkan itu pun di hampir seluruh jenjang pendidikan dalam prosesnya kerap dibumbui dengan praktek ketidakjujuran, seperti menjiplak, menyontek, dan plagiat.  Ironisnya praktek seperti ini sudah dianggap biasa.

Karakter

Tak perlu mengerutkan kening terlalu dalam untuk mencari fakta cacatnya karakter.   Lihat saja tawuran, anarkisme, seks bebas, dan kejahatan di setiap ruang dan waktu sering ditemukan. Tidak saja pelajar dan orang tua sebagai pelakunya, elit politik yang memiliki sebutan dewan terhormat pun tak luput berperilaku menyimpang.  Sedih dan khawatir melihat perkembangan akhlak sekaligus masa depan anak cucu kita.

Kekhawatiran memang ada, namun baru sebatas ucapan. Misalnya, peringatan hari pendidikan nasional tahun ini bertemakan “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa” .  Namun sekali lagi kita paling cerdas membuat jargon.  Pembangunan karakter baru sebatas tema dan judul yang dikumandangkan dalam pidato, saresehan, seminar dan semacamnya.  Akan tetapi tidak berpangkal proses dari dalam kelas.

Sampai kini sekolah-sekolah sebagai pelaksana kebijakan pemerintah tidak dapat berbuat banyak dalam membangunan karakter.  Pemerintah selalu fokus dan sibuk dengan proyek glamour nan prestisius dengan alasan mengejar ketertinggalan pendidikan dari negara-negara tetangga. Hal ini terlihat dari jor-jorannya menyulap sekolah-sekolah reguler menjadi rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI) dan matian-matian mempertahankan keberlangsungan Ujian Nasional (UN).

Bukan tidak setuju dengan keberadaan RSBI dan SBI, namun sekolah yang dirancang untuk menyambut globalisasi ini jangan sampai hanya mengentalkan kastanisasi dan diskriminasi pendidikan.  Sementara pendidikan akhlak yang selama ini “terinjak” UN akan semakin buruk dengan keberadaan sekolah internasional ini.  Sebagaimana diketahui pelajaran yang di UN-kan telah menjadi segala-galanya.  Dari awal tahun pelajaran siswa siswi pada tingkat akhir dipacu untuk faham standar kompetensi lulusan (SKL) dan drilling soal-soal UN.  Tidak terjadi lagi suatu proses pembelajaran menyenangkan yang merangsang tumbuhnya kreativitas.  Begitupun aktualisasi kemampuan diri dalam wadah ekstrakurikuler dan organisasinya (OSIS) tinggal kenangan.

Pendidikan telah kehilangan substansi pencerahan yang mengakar pada budaya dan kultur bangsa.  Seperti akhlak mulia dan kepribadian yang dahulu dielu-elukan, saat ini tidak jelas arahnya baik dalam proses maupun penilaian hasil belajar.  Lihat saja bila penilaian terhadap pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) dituangkan secara kuantitatif dalam bentuk bilangan bulat yang mudah dikalkulasi serta menentukan dalam prosesa kenaikan kelas, sementara penilaian terhadap sikap(afektif) dituangkan secara kualitatif dengan predikat tinggi, sedang, dan rendah serta tidak berpengaruh terhadap kenaikan kelas. Inilah penyebab (walau bukan satu-satunya), akhlak mulia dan kepribadian tak memiliki kekuatan dan hanya dipandang sebelah mata oleh siswa-siswi.

Lebih jelas lagi bila kita melihat syarat-syarat kenaikan kelas.  Siswa-siswi dinyatakan tidak naik kelas, apabila yang bersangkutan tidak mencapai ketuntasan belajar minimal lebih dari tiga mata pelajaran.  Sementara yang memiliki ketuntasan belajar itu hanya ranah pengetahuan dan keterampilan saja.  Sementara ranah sikap tidak memiliki acuan dan batasan yang tegas. Secara implisit kenaikan kelas hanya ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan saja tanpa menghiraukan makna akhlak, sikap, dan perilakunya.

Jika hal ini tetap dipertahankan artinya pendidikan akhlak, sikap dan kepribadian tidak memiliki kedudukan kuat dalam lembar hasil belajar, maka siswa-siswi pun akan memandang dengan sebelah mata.  Untuk itu dibutuhkan pembaharuan dalam pendidikan akhlak karena jika tidak,  maka pendidikan karakter hanya menjadi tema pidato hari-hari bersejarah.  Masih banyak peluang untuk berubah, asal semuanya mau berubah.

UN DAN KUSUTNYA PENDIDIKAN

Kontroversi penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) kian memuncak.  Pro dan kontra terus berlangsung walaupun pemerintah telah mendapatkan legitimasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk melaksanakan ujian nasional. Namun ada syarat yang mengikat yaitu harus berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) (Republika,4/2/2005).  Isyarat DPR ini bukan berarti penyelenggaraannya akan berlangsung mulus mengingat tujuan ujian nasional, UU Sisdiknas, dan Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan (PPSNP) masih disikapi dengan pemahaman yang berbeda. PPSNP yang dipersyaratkan DPR sebelum mengadakan ujian nasional, masih diolah, sementara waktu pelaksanaan ujian nasional makin mendekat. Bukan tidak mungkin peraturan yang dibuat tergesa-gesa akan menimbulkan polemik baru, bila PP ini tidak mengakomodir aspek pendidikan yang mendasar. Ujian nasional yang menyulut kontroversi merupakan sebagian (kecil) dari kusutnya pengelolaan pendidikan. Pendidikan di Indonesia yang dibangun hampir 60 tahun sejak merdeka, tidak menunjukan adanya akselerasi yang berarti, apalagi bila negara tetangga yang menjadi tolok ukur.  Hal ini terjadi karena pendidikan sering dieksploitasi untuk meraih keuntungan dan kepentingan pihak atau golongan tertentu. Fungsi akademik yang diemban nyaris sirna oleh berbagai macam komoditas.  Fungsi pendidikan yang diamanatkan undang-undang yaitu mengembangkan dan membentuk watak bangsa yang bermartabat mengalami distorsi.  Kepentingan pihak tertentu telah menghambat tujuan luhur pendidikan, sehingga out putpendidikan didominasi manusia berkarakter korup dan munafik. Pendidikan hanya memproduk manusia intelek namun bodoh dalam moral. Pendidikan tidak membuat orang cerdas membedakan antara yang haq dan yang batil. Ini sudah cukup menunjukan bahwa sinkronisasi kebijakan pengelolaan pendidikan sangat lemah.  Pendidikan ibarat benang kusut yang simpulnya harus segera diurai.

***

  SEJAK Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) menggulirkan penetapan penyelenggaraan ujian nasional tahun 2004/2005 maka opini pun berkembang.  Pro dan kontra bertarung berebut pengaruh.  Ini menunjukan bahwa keputusan menteri mengandung beberapa kajian yang memang perlu diluruskan karena mengundang perbedaan pemahaman.  Pemahaman yang berkembang itu setidaknya terletak pada nilai ujian nasional yang dijadikan standar kelulusan, tujuan dan fungsi ujian nasional, dan landasan yuridis. Point krusial kontroversi Ujian Nasional terletak pada hasil ujian yang dijadikan patokan kelulusan.  Apakah sudah layak nilai itu dijadikan patokan kelulusan?  Sudahkah nilai Ujian Nasional menggambarkan kemampuan anak yang sebenarnya? Terlalu dangkal bila nilai Ujian Nasional dijadikan batas keberhasilan. Mengingat nilai yang diperoleh hanya mengukur kemampuan pengetahuan (kognitif) saja.  Sementara kemampuan keterampilan (psikomotor), dan sikap (efektif) tidak terukur.  Padahal pemerintah sendiri yang telah menggulirkan sistem pembelajaran kurikulum berbasis kompetisi (KBK).  Dimana dalam KBK seluruh kompetensi siswa diaktualisasikan. Proses pembelajaran menggunakan  pendekatan mengalami bukan hanya mengetahui. Pendekatan mengalami yang dilakukan seperti, leaning to know, learning to do, learning to be, learning to life together, learn how to learn, dan learning throughout life mulai dikembangkan.  Berkaitan dengan hal itu maka bentuk ujian sebagai alat untuk mengetahui tingkat penguasaan dan kemajuan belajar harus relevan. Apakah Ujian Nasional sudah tepat djadikan instrumen penilaian yang valid dan reliable? Dengan dilaksanakan Ujian Nasional, maka akan terjadi kontradiksi dengan pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran. Mengingat ujian ini hanya akan mendorong siswa melakukan pembelajaran dengan tujuan mengetahui, sementara proses pembelajaran mengacu pada pendekatan mengalami.  Sehingga tidak aneh dalam rangka persiapan menghadapi ujian banyak sekolah yang menerapkan pendekatan mengoptimalkan proses mengingat.  Sekolah melatih anak dengan berbagai macam bentuk soal. Anak dilatih dengan formula dan strategi menjawab soal yang bervariasi. Secara tidak disadari ini merupakan pengkerdilan makna pendidikan. Implikasi lain dari persiapan Ujian Nasional adalah beban tambahan dana yang harus ditanggung orang tua Terlalu dangkal bila nilai Ujian Nasional dijadikan batas keberhasilan. Mengingat nilai yang diperoleh hanya mengukur kemampuan pengetahuan (kognitif) saja.  Sementara kemampuan keterampilan (psikomotor), dan sikap (efektif) tidak terukur.  Padahal pemerintah sendiri yang telah menggulirkan sistem pembelajaran kurikulum berbasis kompetisi (KBK).  Dimana dalam KBK seluruh kompetensi siswa diaktualisasikan. Proses pembelajaran menggunakan  pendekatan mengalami bukan hanya mengetahui. Pendekatan mengalami yang dilakukan seperti, leaning to know, learning to do, learning to be, learning to life together, learn how to learn, dan learning throughout life mulai dikembangkan.  Berkaitan dengan hal itu maka bentuk ujian sebagai alat untuk mengetahui tingkat penguasaan dan kemajuan belajar harus relevan. Apakah Ujian Nasional sudah tepat djadikan instrumen penilaian yang valid dan reliable? Kontroversi lain dari ujian nasional dapat dilihat dari kontek tujuan dan landasannya. Seperti yang dikemukakan Mendiknas bahwa Ujian Nasional (UN) bagi peserta didik adalah mengukur dan menilai kompetensi peserta didik (lulusan) di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mencapai standar nasional pendidikan (SNP) (PR,20/1/2005). Ini ditangkap oleh sebahagian masyarakat sebagai suatu pernyataan yang membingungkan. Mengingat ujian digunakan untuk melihat peta kompetensi siswa, apakah nilai perolehan ujian sudah sesuai standar atau belum? Sementara standarnya sendiri yang dijadikan rujukan belum terbentuk.  Begitu pula ditinjau dari kontek perundang-undangan yang digunakan  untuk melegimitasinya masih harus dikaji lebih mendalam, mengingat masih terjadi kerancuan-kerancuan yang berkaitan dengan makna evaluasi dalam undang-undang yang dijadikan sandarannya. Pemaksaan realisasi Ujian Nasional menunjukan lemahnya misi dan visi juga sebagai bukti nyata kusutnya pengelolaan pendidikan di Indonesia.  Pendidikan teramat sulit untuk melepaskan diri dari cengkraman kekuasaan. Tujuan luhur akademik dengan misi membangun karakter bangsa sesuai tuntunan nurani serta pendidikan sebagai pelayanan publik telah dimind setoleh otoritas kekuasaan. Akibat itu semua telah terjadi penyimpangan arah dan salah urus pendidikan pada semua perangkatnya, baik sistem, kurikulum maupun sumber daya manusia dan dana.

***

  OTORITAS kekuasaan menancap begitu dalam pada dunia pendidikan kita, sehingga walau suatu rezim berganti, dominasi kekuasaan ini tetap kokoh.  Hal ini terkait dengan kerangka politik negeri yang disusun. Sistem pendidikan mulai dibangun pada masa orde lama (orla) yang berdasarkan Undang-Undang no 4 Tahun 1950. Undang-undang ini dibentuk dari fondasi yang masih rapuh diperburuk dengan pengaruh penjajah masih kental sehingga tujuan pendidikan masih terlalu jauh untuk dapat diraih. Saat itu dinamika pendidikan sarat dengan doktrin-doktrin kekuasaan. Aktivitas pendidikan tidak dapat berbuat banyak karena akan berhadapan dengan kontra revolusi. Kreativitas pendidikan yang menyuarakan akademik namun berbenturan dengan doktrin kekuasaan, maka dianggap sebagai musuh yang harus segera ditumpas. Seiring dengan perubahan masa pemerintahan yang beralih ke genggaman  orde baru (orba) maka pendidikan pun mengikutinya dan dipandu dengan Undang-Undang No 2 Th 1989.  Undang-undang ini pun “lumpuh” tidak memberikan akselerasi yang berarti bagi kemajuan dunia pendidikan.  Pendidikan masih berada di bawah bayang-bayang otoritas kekuasaan dengan sentralistik yang kuat. Sentralistik dengan sikap yang otoriter telah mematikan kreatifitas dan menjauhkan bangsa dari sentuhan moral. Akibat dari itu pendidikan hanya melahirkan kaum intelek berwatak  kaku dan korup, terlahir pula kaum intelek yang buta moral. Dinamika jaman berlanjut, orde baru yang telah merusak tatanan kehidupan pun runtuh karena keangkuhannya, berganti dengan pemerintahan baru.  Segala perundangan pun mulai ditata, termasuk undang-undang pendidikan. Karena perkembangan peradaban yang begitu pesat serta sistem pendidikan yang tidak layak pakai lagi, maka dibutuhkan undang-undang baru. Riwayat undang-undang produk orba pun berakhir, diganti dengan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).  Undang-undang ini pada dasarnya telah banyak mengakomodir serta berorintasi pada sistem pendidikan yang dibutuhkan pada masa depan.  Namun karena watak pengelola pendidikan masih produk lama, maka kebijakan-kebijakan yang berorientasi kekuasan masih tetap dominan.  Kebijakan-kebijakannya masih menyelipkan kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan.  Mental proyek yang tumbuh subur pada masa orba tetap eksis walaupun mendapat kecaman publik.  Sikap demikian terbukti hanya meruntuhkan sistem pendidikan.  Untuk itu pendidikan harus didorong untuk mencapai tujuan akademik yang bermutu dan merata serta menghindarkan kepentingan-kepentingan lain. Mengutip pendapat Mohammad Surya, bahwa pendidikan harus dijadikan pelayanan publik dan menghindarkan dari privatisasi komoditas (PR,6/12/2004). Pendidikan bermutu yang dibutuhkan saat ini dan mendatang harus terekam dalam kurikulum yang digunakan.  Belajar dari kurikulum yang tidak memberikan dampak pada karakter yang dituntun nurani dan dianggap kurikulum gagal, pemerintah menggulirkan kurikulum yang berorientasi mengalami (KBK).  Paradigma pengajaran mengarah ke learn how to learn, yaitu siswa belajar mengembangkan strategi belajar yang independen, kreatif dan inovatif.  Guru yang semula menjadi sentral, dengan kurikulum ini  menjadi motivator dan fasilitator.  Namun kenyataannya kurikulum yang telah beberapa tahun bergulir ini masih ngambang.  Kalangan atas pendidikan nampak memiliki kendala dalam teknik transfer, sehingga kalangan bawah (guru dan masyarakat) masih kebingungan menerapkan konsep Kurikulum Berbasis Kompetisi (KBK).  Hal ini dipersulit dengan tidak adanya kesiapan pemerintah dalam menyokong infrastuktur yang dibutuhkan. Selain kurikulum, sumber daya pendidikan dalam hal ini guru, masih diperlakukan sebagai pegawai pemerintahan yang harus setia, jujur, disipilin, dan produktif.  Sementara guru sebagai pendidik yang lebih mengutamakan kekuatan moral yang tinggi serta memiliki dedikasi dan tanggung jawab tidak pernah dihargai.  Tuntutan guru yang harus memiliki wawasan keilmuan untuk menampilkan kreatifitas dan inovasi terbelenggu karena tidak terperhatikan nasibnya.  Perhatian pemerintah terhadap guru hanya jargon yang tidak memiliki makna. Saat ini hampir tidak ada torehan prestasi yang membuat kepala kita dapat tegak, bahkan terkadang kita malu menjadi pribadi bangsaIndonesia. Pendidikan mengalami degradasi, korupsi menjadi ciri khas, virus amoral tumbuh subur, dikolaborasikan dengan ragam bencana yang tiada henti, maka makin lengkap penderitaan bangsa. Ini semua hanya dapat diakhiri dengan pendidikan.  Pendidikan harus dijadikan basis utama pembangunan bangsa yang akan menciptakan keseimbangan moral dan logika. Beri kepercayaan penuh kepada pendidikan untuk mengubah keadaan.  Bentuk kepercayaan itu adalah political willpemerintah dalam pembangunan pendidikan harus jelas. Tindakan-tindakan nyata berupa dukungan anggaran yang layak untuk pendidikan yang bermutu.  Anatomi sistem pendidikan sebagus apapun tidak berarti bila dukungan anggaran kecil. Buatkan visi dan misi pendidikan secara eksplisit yang dapat terekam dari rencana strategis jangka panjang. Hindari perubahan-perubahan tidak substansial yang menghabiskan dana seperti sering dilakukan saat ini.  Hargai dedikasi dan tanggung jawab guru supaya lebih terarah dalam mengembangkan karakter bangsa sesuai dengan tuntunan nurani. Hindari mengeksploitasi guru untuk kepentingan sesaat.

 Penulis, Guru dan Anggota Klub Penulisan “Hardim”Bandung

Lima Kekuatan Iran VS Militansi Timnas

Iran akan mengerahkan seluruh kekuatannya pada saat melawan Timnas pada babak penyisihan piala Dunia 2014.  Iran saat menjadi tuan rumah ini memliliki lima (5) kekuatan sebagai senjata untuk meruntuhkan Firman Utina dkk.
Pertama, pemain Iran memiliki kualitas lebih tinggi, baik kemampuan individu maupun tim. Pemainnya telah berpengalaman untuk level Asia bahkan beberapa pemain merumput di Erofa. Kedua, Kondisi cuaca dan lapangan, Cuaca saat ini di Iran berada di bawah 15 derajat, ini akan menyulitkan pernafasan seluruh pemain timnas, yang sekaligus akan menguras endurance pemain. Kondisi lapangan/stadion merupakan sesuatu yang baru bagi seluruh tim. Ketiga, pemain kedua belas Iran alias penonton tuan rumah. Iran akan mengerahkan seratus ribuan penonton langsung ke lapangan. Bahkan untuk menarik minat menonton dikabarkan seluruh penonton tidak dipungut tiket alias gratis. Keempat, Pelatih Iran, Carlos Queiroz merupakan jaminan, karena ia pernah mengarsiteki timnas Portugal di piala dunia. Kelima, adalah impian seluruh pemain dan rakyat Iran yaitu lolos dari babak penyisihan supaya dapat tampil di piala dunia 2014. itulah lima kekuatan Iran yang siap menerkan Bambang Pamungkas dkk.
Namun jangan berkecil hati wahai duta-duta bangsa. Lima kekuatan itu dapat dijadikan kelemahan mereka. Syaratnya buatlah mereka prustasi dengan militansi disiplin yang tinggi. Lawan lima kekuatan Iran dengan konsentrasi penuh di atas lapangan. Tegakanlah kepala bahwa Indonesia adalah negara yang pantang menyerah kepada siapapun di dunia ini. Siap berperang dimanapun baik di atas lapangan maupun di luar lapangan dalam rangka membela kebenaran dan hak dari sebuah bangsa yang merdeka. Jadikan semangat Proklamasi untuk melawan kekuatan Iran. Hidup Indonesia.